Showing posts with label Infeksi. Show all posts
Showing posts with label Infeksi. Show all posts

Monday, May 17, 2010

Infeksi Bakteri Mematikan Berawal dari Sakit Tenggorokan

Sumber: 'http://health.detik.com/read/2010/05/18/093037/1358939/763/infeksi-bakteri-mematikan-berawal-dari-sakit-tenggorokan?l991101755'

Vera Farah Bararah - detikHealth

California, Saat mengalami sakit tenggorokan seseorang seringkali mengabaikannya. Seorang pria asal California harus berjuang hidup melawan infeksi bakteri mematikan yang diawali dengan sakit tenggorokan.

Awalnya Patrick Abram Jr (20 tahun) mengeluh pada orangtuanya Patrick dan Leslie Abram mengenai sakit tenggorokan selama dua minggu.

Namun ketika sang ayah pergi ke rumah anaknya untuk memeriksa, ia sangat terkejut karena menemukan mata anaknya menguning dan rahang serta kaki kirinya membengkak. Ternyata infeksi bakteri ini telah menyebar ke bagian tubuh lain termasuk otak.

"Kondisi ini lebih parah dari hanya sekedar sakit tenggorokan," ujar sang ayah, seperti dikutip dari AOLHealth, Selasa (18/5/2010).

Sang ayah akhirnya membawa Abram Jr ke Arrowhead Regional Medical Center di Colton, California. Di sinilah dokter mendiagnosis Abram Jr penyakit sindrom Lemierre langka tapi berpotensi mematikan.

Sindrom Lemierre pertama kali ditemukan oleh Andre Lemierre pada tahun 1936 setelah melakukan studi kasus terhadap 20 pasien, 18 diantaranya meninggal karena penyakit ini yang berasal dari infeksi bakteri di tenggorokan.

Infeksi ini disebabkan oleh Fusobacteria necrophorum yang mengumpul di bagian belakang tenggorokan, namun dengan alasan yang belum jelas bakteri ini cepat berkembang biak dan menyebar ke area lain di tubuh.

Penyakit ini sempat menghilang karena munculnya antibiotik. Tapi beberapa dekade kemudian kembali lagi dan dikenal dengan penyakit yang dilupakan (forgotten disease).

Dalam kasus Abram Jr, bakteri yang berkumpul tersebut pindah ke aliran darah menuju kaki dan otaknya. Hal inilah yang menyebabkan pembengkakan di kedua daerah tersebut.

Dr Robert dan tim memberinya antibiotik serta memotong kecil bagian vena tempat bakteri tersebut berkumpul dan membentuk gumpalan darah. Prosedur ini dimaksudkan untuk menghentikan pergerakan infeksi ke organ lain.

Selain itu, ahli bedah lain juga melakukan operasi untuk meringankan pembengkakan di otaknya. Akibat kondisi ini Abram Jr terpaksa harus berada di ICU dengan banyaknya rasa sakit. Tes lebih lanjut tetap diperlukan untuk melihat apakah antibiotik yang diberikan sudah bekerja atau belum.

Namun Dr Kent Holtrof, pendiri dari Holtrof Medical Group mengungkapkan bahwa seseorang yang terserang sakit tenggorokan tidak harus panik terhadap kemungkinan terkena sindrom Lemierre.

"Dibutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk membuat infeksi ini terjadi. Namun hal yang harus diperhatikan jika terkena sakit tenggorokan adalah kenali gejala yang menetap atau berhubungan dengan sistem seperti sakit kepala dan bengkak di dalam tubuh yang tak kunjung hilang," ungkapnya.

Penyakit ini memang tidak menular, tapi serangannya lebih cepat dibandingkan dengan kanker. Gejala yang timbul sangat mirip dengan sakit flu dan sakit tenggorokan, serta penyakit ini menyerang organ yang berbeda di setiap kasusnya.

Kunci agar bisa bertahan hidup dengan penyakit ini adalah mengenali dengan cepat dan segera mengonsumsi antibiotik yang responsif dengan bakteri ini serta mengeringkan pembengkakan. Dengan terapi yang tepat, tingkat kematian hanya sekitar 4-12 persen saja.

(ver/ir)

Wednesday, May 05, 2010

Peritonitis

Sumber: medlineplus dan UMM.

Deskripsi
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini.

Peritonitis primer disebabkan oleh penyebaran infeksi dari darah dan kelenjar getah bening ke peritoneum. Jenis jarang peritonitis - kurang dari 1% dari semua kasus peritonitis primer.

Jenis yang lebih umum dari peritonitis, yang disebut peritonitis sekunder, disebabkan infeksi ketika datang ke peritoneum dari gastrointestinal atau saluran bilier. Kedua kasus peritonitis sangat serius dan dapat mengancam kehidupan jika tidak dirawat dengan cepat.

Tanda dan Gejala
Tanda-tanda dan gejala peritonitis meliputi:
* Pembengkakan dan nyeri di perut
* Demam dan menggigil
* Kehilangan nafsu makan
* Haus
* Mual dan muntah
* Urin terbatas

Pengobatan
Peritonitis berpotensi mengancam kehidupan. Penderita disarankan mendapat perawatan di rumah sakit. Penderita memerlukan pembedahan untuk menghilangkan sumber infeksi, seperti radang usus buntu, atau untuk memperbaiki robekan pada dinding gastrointestinal atau saluran bilier.

(tbs/tbs)

Monday, March 29, 2010

Propolis Gagalkan Amputasi

Sumber: http://www.trubus-online.co.id/members/ma/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=11&artid=2225

Oleh trubusid_admindb

Mengunjungi kerabat dekat pada pertengahan 2006 berakibat fatal bagi Yatinah. Dengan Kadar gula darah 423 mg/l kakinya tak merasakan kap mesin angkutan kota yang panas. Sesampai di rumah punggung kaki melepuh.

Luka melepuh itu kemudian membengkak berisi cairan. Karena bengkak kian membesar, perempuan berusia 61 tahun itu lantas dibawa ke rumahsakit di Bekasi. Dokter menyayat dan mengeluarkan cairan lalu menjahitnya. Luka sayatan itulah awal derita. Penyakit gula membuat luka tak kunjung menutup. Dalam 3 bulan, luka itu semakin lebar dan dalam.

Meski setiap hari dicuci dengan air hangat dan dikompres, luka tak juga mengecil. Di bulan kelima, lukanya malah mulai bernanah dan menguarkan bau tak sedap. Puncaknya pada awal 2007 luka tembus sampai telapak kaki dan menjadi ganren. Ia pun tak lagi mampu berdiri, apalagi berjalan. Mobilitas perempuan 9 anak itu bergantung pada kursi roda.

Yatinah kerap bolak-balik ke klinik dan rumahsakit untuk memeriksakan lukanya. Perempuan yang hidupnya hanya mengandalkan warung makanan kecil di depan rumah itu mesti merogoh kocek Rp250.000—Rp500.000 setiap periksa. Meski demikian, ganren terus menjalar sampai kulit di sekitarnya lebam menghitam. Maret 2007, lebam kehitaman itu menjalar mendekati pergelangan kaki. “Jika sudah sampai pergelangan kaki harus di amputasi,” kata Yatinah menirukan ucapan dokter. Ia pun hanya bisa pasrah sambil terus mengkonsumsi obat dari dokter.

Sembuh

Pada April 2007, seorang tetangga datang berkunjung dan menyarankan mengkonsumsi propolis. Yatinah menurut walau ragu. “Dokter di klinik dan rumahsakit dengan obat buatan pabrik terkenal saja tidak bisa menyembuhkan, apalagi suplemen biasa,” katanya. Selama 3 hari ia mengkonsumsi kapsul berisi 500 mg propolis pada pagi, siang, dan malam sebelum tidur. Menurut Yatinah, konsumsi awal rendah itu untuk memberi kesempatan tubuh beradaptasi.

Setelah 3 hari konsumsi, Yatinah merasakan tidak ada reaksi penolakan dari tubuh dan baunya berkurang. Saat itulah ia merasakan lukanya berdenyut, pertanda saraf perasa kembali aktif. Konsumsi pun ditingkatkan menjadi 3 kapsul setiap minum dengan frekuensi tetap. Dua minggu mengkonsumsi, nanah berhenti keluar. Bau tidak sedap pun tidak lagi tercium. Luka di telapak mulai mengering, sedangkan luka di punggung kaki menyempit. Lebam kehitaman di sekitar luka memudar.

Saat itu konsumsi propolis masih dibarengi obat kimia. Setelah obat dokter habis, Yatinah melanjutkan pengobatan hanya dengan propolis. Sebulan setelah konsumsi, giliran luka di punggung kaki mengering bersamaan menutupnya luka di telapak. Dua bulan mengkonsumsi, nenek 17 cucu itu bisa lepas dari kursi roda. Ia kembali bisa berjalan meski agak tertatih. Tak sampai 3 bulan mengkonsumsi, luka mengerikan itu sudah lenyap.

Bukan cuma mengkonsumsi propolis secara oral, Yatinah juga menggunakan salep untuk obat luar. Ia mengoleskan salep mengandung propolis dan lidah buaya pada ganren di kakinya. Sebelumnya luka dicuci 2—3 kali dengan cairan infus. Cairan infus dipilih lantaran steril. Setelah dibilas dengan cairan madu, barulah salep dioleskan. Cairan madu menggantikan alkohol yang meskipun ampuh mengeringkan luka tapi sakitnya tidak tertahankan.

Dalam dan luar

Menurut dr Hafuan Lutfie, dokter yang meresepkan propolis sejak 2002, propolis bisa bekerja di dalam dan di luar tubuh. Jika dikonsumsi oral, propolis memperbaiki fungsi kelenjar pankreas dalam memproduksi insulin sehingga menurunkan kadar glukosa darah. “Tapi dengan catatan kelenjar pankreas masih berfungsi dan belum rusak total,” katanya. Selain membantu penyembuhan, propolis juga memberi nutrisi sehingga sel bisa beregenerasi. Fungsi itulah yang tidak bisa digantikan obat-obatan medis.

Jika digunakan di luar tubuh, misalnya dioleskan sebagai salep, propolis bisa menyembuhkan ganren dan menghilangkan nanah serta bau. Pasalnya, lem lebah itu bersifat antibakteri. Menurut Hafuan, nanah dan bau adalah sisa pertempuran antara sel darah putih dan bakteri patogen dari udara. Jika bakteri sudah dikalahkan oleh propolis, tidak ada lagi nanah penyebab bau yang terbentuk. Sifat lain propolis dan produk perlebahan lain secara umum adalah membantu pengeringan sehingga tidak dihinggapi bakteri patogen.

Daya menyembuhkan propolis tergantung kepada kadar yang dikonsumsi. Semakin tinggi kadar, semakin ampuh daya menyembuhkannya. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi—misal melebihi 60%—zat itu tidak bisa tercerna tubuh lantaran sifatnya yang liat dan keras. Sebagai produk nonkimiawi, propolis aman dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping. Toh, Hafuan mengingatkan, selain asupan propolis, penderita diabetes tetap harus menjaga pola makan dan menghindari konsumsi tinggi glukosa serta karbohidrat.

Antibakteri

Propolis ampuh memberangus diabetes melitus dan efek sampingnya lantaran kandungan CAPE alias asam kafeat fenetil ester. Penelitian Fuliang dari Universitas Zhejiang, Hangzhou, China, dan Hepburn dari Universitas Rhodes, Grahamstown, Afrika Selatan, membuktikan ekstrak propolis menurunkan kadar glukosa, fruktosamin, malonaldehida, oksida nitrat, oksida nitrat sintetase, trigliserida, sampai kolesterol total dalam darah. Sementara hasil pengujian Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPT) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menemukan propolis kaya alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, tanin, dan kuersetin, yang semuanya bersifat antioksidan.

Menurut dr Robert Hatibie, dokter yang meresepkan propolis dan produk lebah, propolis menstimulasi sistem imun sehingga tubuh mampu melawan infeksi bakteri patogen. Menurut Prof Dr Ir Mappatoba Sila, peneliti lebah di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, propolis dibentuk lebah untuk melindungi larva yang baru menetas dari infeksi cendawan dan bakteri. Jadi, “Secara natural memang sudah bersifat antibakteri,” katanya.

Pendapat Robert dan Mappatoba diperkuat Dr dr Eko Budi Koendhori MKes dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penelitiannya pada 2007 membuktikan propolis mampu membunuh 26 isolat bakteri Staphylococcus aureus penyebab infeksi pada kulit dan saluran pernapasan serta Escherichia coli penginfeksi saluran pencernaan. Propolis dosis 10% dan 20% mampu membunuh seluruh sampel kedua jenis bakteri. Bagi Yatinah, apa pun penjelasannya, yang penting ia lolos dari amputasi dan bisa berjalan kembali. (A. Arie Raharjo/Peliput: Tri Susanti)

Tuesday, July 07, 2009

Luka Infeksi


Klik untuk perbesar

Propolis vs Kanker Payudara

Propolis vs Kanker Darah

Gudang Propolis